Kamis, 23 Juli 2009

PENGARUH PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN PISANG ( Musa paradisiaca ) DI LAHAN KERING

B.Tri Ratna Erawati1, Awaludin Hipi.1, Agus Sutanto2
1) Peneliti pada BPTP NTB
2) Peneliti pada Balai Penelitian Buah, Solok
ABSTRAK
Pisang merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi yang baik pada kondisi kekurangan air, sehingga pisang banyak ditanam petani di lokasi lahan kering. Tetapi dalam pengembangan pisang tersebut petani belum menerapkan teknik budidaya yang baik dan benar, terutama mengenai pemupukan. Petani umumnya belum melakuan pemupukan secara berimbang, sehingga produktivitas dan kualitas pisang yang dihasilkan masih relatif rendah. Untuk itu perlu dilakukan pengujian mengenai beberapa paket pemupukan dengan tujuan untuk mengetahui paket pemupukan terbaik dan efisien ditingkat petani, seingga produktivitas dan kualitas pisang dapat ditingkatkan. Pengkajian dilakukan di lahan kering milik petani di Desa Labuan Pandan, Kecamatan Sambelia Lombok Timur, pada bulan Januari – Juni 2007. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan 5 perlakuan yang diulang 12 kali. Jenis pisang yang digunakan adalah pisang susu dengan jarak tanam 3 m x 3.5 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman pisang membutuhkan tambahan unsur hara dari pupuk organik maupun an organik dalam pertumbuhan vegetatifnya. Perlakuan paket pemupukan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) merupakan pemupukan terbaik dan efisien dibanding dangan perlakuan lainnya. Kemudian disusul oleh paket pemupukan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi). Pemberian pupuk Urea yang tidak dibarengi dengan pemberian pupuk kandang hasilnya kurang baik jika dibandingkan dengan pupuk ZA.
Kata kunci : pemupukan, pisang, lahan kering
PENDAHULUAN
Pisang merupakan salah satu komoditas buah unggulan di Indonesia. Luas dan Produksi Pisang selalu menempati posisi pertama. Produksi pisang sebagian besar di panen dari pertanaman kebun rakyat. Selain itu pisang mengandung vitamin dan mineral esensial yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Oleh sebab itu maka pengembangan pisang perlu mendapat perhatian yang lebih seius.
Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa tahun terakhir melakukan pengembangan pisang khususnya di lahan kering karena potensi lahan kering NTB cukup luas dan belum dikelola secara optimal. Pisang merupakan tanaman yang memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik terhadap kekurangan air.
Usahatani pisang cukup menguntungkan dan dapat memberikan pendapatan petani secara kontinyu setiap bulannya. Seiring dengan itu peluang pemasaran pisang juga terbuka luas baik untuk pasar lokal maupun pasar luar daerah (khususnya Bali) dengan harga jual yang cukup tinggi dan stabil pada jenis-jenis pisang komerial. Hal ini yang mendorong petani kuhusnya di Kabupaten Lombok Timur untuk banyak mengembangkan tanaman pisang.
Namun disayangkan pengembangan pisang yang dilakukan oleh petani tersebut belum diikuti dengan penanganan budidaya tanaman pisang yang tepat dan benar. Hal ini yang menyebabakan produktivitas dan produksi pisang di NTB masih relatif rendah. Petani masih melakukan usahatani pisang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan ekonomi terutama mengenai pemupukan. Pemberian pupuk ditingkat petani masih sangat bervariasi dan belum menggunakan pemupukan yang seimbang yaitu penggunaan pupuk organik dan an organik. Pemupukan yang berimbang mampu memberikan pertubuhan tanaman menjadi lebih baik, tahan terhadap kerebahan, tahan terhadap hama dan penyakit, dan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil. Pengunaan pupuk organik dapat memberikan tambahan baha organic, hara, memperbaiki sifat fisik tanah, serta mengembalikan hara yang teangkut hasil anen. Selain itu juga dapat mencegah kehilangan air dalam anah dan laju infiltrasi air (Soemarno, 1993).
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan dilahan petani di Desa Labuan Pandan Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur, pada bulan Januari – Juni 2007. Tipologi lokasi penelitian adalah lahan kering. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yang diulang 12 kali, dan masing-masing perlakuan menggunakan 10 tanaman sampel. Perlakuan terdiri dari beberapa paket pemupukan yaitu : O = tanpa menggunan pupuk (kontrol), A = Pupuk kompos (20 kg/pohon) /aplikasi, B = Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g /pohon/aplikasi, C = ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi, dan D = Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi. Perlakuan diatur pada lahan petani, berdasarkan rancangan percobaan yang telah ditentukan.
Bahan yang digunakan adalah bibit (dalam polybag) yang sudah dikembangkan dari bonggol. Jenis pisang yang digunakan adalah pisang susu. Penanaman dilakukan secara bersamaan, setiap lubang ditanami satu tanaman, dengan jarak tanam 3 m x 3,5 m. Pemupukan dilakukan sesuai dengan paket pada setiap perlakuan. Untuk perlakuan yang memiliki kompos A dan D, kompos diberikan 2 minggu sebelum tanam. Sedangkan untuk pemupukan an organik di berikan 2 minggu setelah penanaman. 
Pengamatan dilakukan setiap satu bulan, dimulai dari satu bulan setelah aplikasi pemupukan an organic. Peubah yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman (bulan pertama, bulan kedua dan bulan ketiga), pertambahan diameter batang (bulan pertama, bulan kedua dan bulan ketiga), dan jumlah anakan yang keluar (bulan pertama, bulan kedua dan bulan ketiga). Data hasil pengamatan dianalisia dengan analisis varian pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Penambahan Tinggi Tanaman 
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada penambahan tinggi tanaman antara perlakuan paket pemupukan pada pengamatan pertama. Tetapi berbeda halnya dengan pertumbuhan tanaman pada pengamatan kedua. Pengaruh pemupukan terlihat pada penambahan tinggi tanaman pada semua paket pemupukan yang dicobakan. Dimana perlakuan O(kontrol) memiliki penambahan tinggi tanaman terendah dan berbeda dengan semua paket pemupukan yang lainnya. Perlakuan A (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) memiliki penambahan tinggi tanaman lebih baik dibandingkan dengan O (pada p = 0,01) tetapi perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) memberikan penambahan tinggi tanaman yang lebih baik dibandingkan A (pada p = 0,01). Dimana perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) menunjukkan perbedaan penambahan tinggi tanaman secara nyata dengan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D(Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi ) (pada p = 0,02), tetapi pada perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/phn/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) tidak menunjukkan perbedaan penambahan tinggi tanaman secara nyata pada bulan kedua. Paket pemupukan pada perlakukan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/ pohon/aplikasi) memberikan tambahan tinggi tanaman terbaik dan berbeda nyata dengan perlakuan paket pemupukan lainnya. 
Tabel 1. Rataan Pertambahan Tinggi Tanaman Pisang Setiap Pengamatan pada Beberapa Perlakuan Paket Pemupukan, Sambelia, 2007
Perlakuan Pertambahan tinggi tanaman (cm)
 Pengamatan ke
 1 2 3
O : (Kontrol) 24,83 a 47,30 a 24,70 a
A : (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) 25,08 a 50,60 b 29,00 b
B : (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g /pohon/aplikasi) 25,58 a 54,70 c 38,60 c
C : (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g /pohon/aplikasi) 27,08 a 66,10 d 41,90 c
D : (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi) 25,75 a 68,60 d 40,70 c
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang didampingi huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan pada taraf 5 % (berlaku untuk tabel-tabel berikutnya)
Pada pengamatan ketiga, pengaruh paket pemupukan sangat nyata terhadap penambahan tinggi tanaman. Pada bulan ketiga, perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) mampu menigkatkan penambahan tinggi tanaman yang cukup tinggi yang tidak berbeda dengan penambahan tinggi tanaman pada perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D tetapi berbeda dengan penamabahan tinggi tanaman pada perlakuan A (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) dan O (Kontrol). Walaupun secara statistik perlakuan B(Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) tidak berbeda dengan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi), tetapi ada kecendrungan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) lebih baik dari perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi). Hasil rataan penambahan tinggi tanaman pisang pada beberapa perlakuan paket pemupukan dapat dilihat pada Tabel 1.
Diameter Batang 
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemupukan berpengaruh nyata terhadap besarnya diameter batang tanaman pisang pada pengamatan pertama. Hal ini ditunjukkan dengan diameter batang pada perlakuan O (kontrol) yang memiliki penambahan diameter batang paling rendah dan berbeda nyata (p = < 0,001) dengan perlakuan pada paket pemupukan lainnya. Pada perlakuan A (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi), B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi), C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/ pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) tidak terjadi perbedaan penambahan diameter batang.
Pada pengamatan kedua untuk diamter batang, terjadi perbedaan penambahan diameter batang yang cukup nyata pada beberapa paket pemupukan yang diuji. Terlihat bahwa penambahan diameter batang pada perlakuan O (kontrol ) paling kecil dan berbeda nyata dengan perlakuan pada paket pemupukan lainnya (p = 0,006). Jika dilihat dari besarnya penambahan diameter batang maka perlakuan A (Kompos 20 kg/ pohon/aplikasi lebih baik dari perlakuan O (kontrol ), tetapi perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) lebih baik dari pada perlakuan A. Penambahan diameter batang pada perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g /pohon/aplikasi) berbeda nyata dengan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi), tetapi perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi) tidak memiliki perbedaan yang nyata pada penambahan diameter batang. Perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) memiliki penambahan diameter batang terbesar dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Tabel 2. Rataan Pertambahan Diameter Batang Pisang Setiap Pengamatan pada Beberapa Perlakuan Paket Pemupukan, Sambelia, 2007
Perlakuan Pertambahan diameter batang (cm)
 Pengamatan ke
 1 2 3
O : (Kontrol) 1,03 a 3,24 a 2,23 a
A : (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) 1,17 b 3,39 b 2,26 a
B : (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) 1,25 b 3,82 c 2,62 b
C : (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) 1,18 b 4,52 d 2,87 b
D : (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi ) 1,19 b 4,72 d 2,99 b
Pengamatan pada ketiga untuk penambahan besarnya diameter batang diperoleh hasil bahwa perlakuan O (kontrol ) dan A (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) tidak berbeda. Ini menunjukan bahwa pemberian kompos saja belum cukup untuk meningkatkan penambahan diameter batang selama pertumbuhan tanaman. Perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) pada pengamata bulan ketiga terlihat tidak memiliki perbedaan penambahan besarnya diameter batang dengan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D(Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi). Dimana C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) tidak memiliki perbedaan pada penamabahan diameter batang. Hasil rataan penambahan diameter batang pada beberapa perlakuan paket pemupukan dapat dilihat pada Tabel 2.
Jumlah Daun
Hasil penelitian pada pengamata pertama menunjukkan bahwa pemupukan berpengaruh terhadap jumlah daun. Dimana perlakuan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) memperlihatkan penambahan jumlah daun paling besar dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. 
Untuk pengamatan kedua semua perlakuan tidak mengalami pertambahan jumlah daun yang sama, artinya tidak terjadi perbedaan dalam penambahan jumlah daun. Ini menunjukan bahwa unsur hara yang diberikan kedalam tanah dalam bentuk pupuk an organik mulai dapat diserap tanaman dengan baik.
Perlakuan Pertambahan Jumlah daun (helai)
 Pengamatan ke
 1 2 3
O : (Kontrol) 4,08 a 4,42 a 4,42 a
A : (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) 3,67 a 4,17 a 4,42 a
B : (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g /pohon/aplikasi) 4,00 a 4,50 a 4,92 b
C : (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g /pohon/aplikasi) 3,83 a 4,25 a 4,92 b
D : (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi) 4,83 b 4,83 a 4,92 b
Tabel 3. Rataan pertambahan jumlah daun di setiap pengamatan pada beberapa perlakuan paket pemupukan, Sambelia, 2007
Pada pengamatan ketiga terjadi perbedaan penambahan jumlah daun pada perlakuan pemupukan yang dicoba. Terlihat bahwa ada perbedaan penambahan jumlah daun antara paket pemupukan (perlakuan B,C,D) dengan perlakuan A (kompos ) dan O (kontrol). Dimana antara perlakuan A (kompos ) dan O (kontrol) tidak terjadi perbedaan penamabahan jumlah daun. Begitu juga halnya dengan perlakuan paket pemupukan (perlakuan B,C dan D) tidak terjadi perbedaan penambahan jumlah daun. Untuk mengetahui rerata pertambahan jumlah daun setiap pengamatan disajikan pada Tabel 3.
Jumlah Anakan
Data pada Tabel 4. menunjukkan bahwa paket pemupukan pada perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) berpengaruh terhadap jumlah anakan yang tumbuh. Dimana perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) berbeda dengan perlakuan lainnya, pada pengamatan bulan kedua.
Untuk pengamatan bulan ketiga, terlihat bahwa paket pemupukan pada perlakuan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g/pohon/aplikasi) menunjukan perbedan dengan perlakuan O (Kontrol) dan A (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi), tetapi tidak berbeda dengan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/ pohon/aplikasi) dan D(Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi).. Walaupun demikian ada kecendrungan paket pemupukan pada perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi). lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.
Tabel 4. Rataan Jumlah Anakan Pisang yang Tumbuh Setiap Pengamatan pada Beberapa Perlakuan Paket Pemupukan, Sambelia, 2007
Perlakuan Pengamatan jumlah anakan yang tumbuh (anakan)
 Pengamatan ke
 1 2 3
O : (Kontrol) 0,00 a 0,00 a 0,00 a
A : (Kompos 20 kg/pohon/aplikasi) 0,00 a 0,00 a 0,00 a
B : (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g /pohon/aplikasi) 0,00 a 0,00 a 0,17 b
C : (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g /pohon/aplikasi) 0,00 a 0,25 b 0,58 b
D : (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi). 0,00 a 0,50 b 0,75 b

PEMBAHASAN 
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kontrol memberikan pertumbuhan vegtatif tanaman yang paling rendah dari beberpa peuah yang diamati, ini menunjukkan bahwa tanaman pisang tetap membutuhkan tambahan unsur hara makro maupun mikro dalam proses pertumbuhan vegetatifnya. Pemberian kompos saja sejumlah 20 kg/pohon/aplikasi belum cukup untuk mendukung petumbuhan vegetatif tanaman pisang. Disamping itu juga pupuk kompos tidak segera dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pelepasan unsur hara dari pupuk kompos berlangsung secara bertahap dan lama (Limin, 1992) sehingga, seperti yang ditunjukan oleh oleh hasil penelitian, memerlukan waktu 1 – 2 bulan untuk dapat diserap oleh tanaman pisang.
Paket pemupukan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) yang ada pupuk ZA-nya (Ammonium sulfat = (NH4)2SO4) cendrung lebih baik dibandingkan dengan paket pemupukan B (Urea 250 g + SP36 100 g + KCl 150 g /pohon/aplikasi) yang ada pupuk Urea-nya. Terlihat bahwa unsur nitrogen dan belerang yang ada pada pupuk ZA sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pisang. Pemberian nitrogen pada pertumbuhan awal akan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman (Supriyono, 1976 dalam Annisa, 1992). Unsur belerang memiliki pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman pisang karena belerang merupakan unsur essensial bagi pertumbuhan tanaman yang sangat diperlukan untuk berbagai reaksi dalam sel hidup, terutama sebagai penyusun dari asam amino metionin dan sistein (Soepardi, 1983). Pemberian nitrogen dalam bentuk pupuk ZA pada pisang lebih baik dibanding bentuk Urea. Ini sama seperti pemberian pupuk ZA pada padi sawah di Sulawesi Selatan dapat meningkatkan hasil lebih banyak jika dibadingkan dengan pemberian pupuk nitrogen dalam bentuk urea demikian juga pada pertanaman tebu (Dalal dan Prasad, 1975).
Untuk meningkatkan efisiensi pemupukan sebaiknya dikombinasikan antara pupuk organik dan an organik, seperti pada perlakuan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi). Pada penelitian terlihat bahwa perlakuan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg /pohon/aplikasi) umumnya tidak berbeda dengan perlakuan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g /pohon/aplikasi) pada beberapa peubah yang diamati. Ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan organik berpengaruh baik terhadap kerja bahan an organik. Pada paket pemupukan di perlakuan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) tidak terdapat pupuk KCl tetapi terdapat pupuk kompos (organik), karena bahan organik mempunyai peranan penting dalam menentukan ketersediaan kalium dalam tanah (Soemarno, 1993). Selain itu juga pupuk kompos merupakan pupuk organik yang dapat memberikan tambahan bahan organik, hara, memperbaiki sifat fisik tanah, serta mengembalikan hara yang terangkut hasil panen. Disamping itu juga dapat mencegah kehilangan air dalam tanah dan laju infiltrasi air.
KESIMPULAN
1. Paket pemupukan C (ZA 200 g + SP36 200 g + KCl 100 g/pohon/aplikasi) dan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) menunjukkan pertumbuhan vegetatif tanaman pisang terbaik pada beberapa peubah yang diamati dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Paket pemupukan D (Urea 200 g + SP36 150 g + kompos 10 kg/pohon/aplikasi) lebih efisien untuk diterapkan ditingkat petani.
2. Pengaruh unsur nitrogen pada pupuk ZA lebih baik dibandingkan dengan bentuk Urea untuk pertumbuhan vegetatif tanaman pisang.
3. Untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman pisang perlu dipadukan antara penggunaan pupuk organik dan an organik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar